Tittle : This Is Not The End
Cast : Han Chaerin, Park Chanyeol, Zhang Yixing.
Warning!
.
.
Alur
maju-mundur-cantik!
.
.
Alur
sangat membingungkan!
.
.
Alur
sangat amat panjang!
.
.
Dimohon amat sangat untuk para pembaca agar meninggalkan komen. Please,
Don't be a SIDERS!
.
.
Cari posisi & suasana yang sesuai dengan alur cerita. Enjoy it!
---o0o---
Wanita itu terduduk pada sebuah sofa merah
marun klasik. Binar mata dibalik lensa minus itu berkilat menyiratkan perasaan yang
sulit diartikan. Bibir bawahnya tergerak perlahan mendengungkan kata-kata pada
sebuah buku yang sampulnya lebih dominan berwarna gelap.
Ia menghela napas panjang lalu menutup
lembaran terakhir buku itu.
“Inilah akhirnya,” Ia bergumam lalu
meletakkan buku tersebut ke meja di hadapannya. Setengguk cairan bening—yang
sedikit berbuih di bagian atasnya—berada di dalam gelas tulip transparan mengisi tenggorokannya yang terasa kering.
Ia tersenyum simpul.
“Ya, aku akan kaya dengan ini.”
[STORY BEGIN]
Malam
itu, seorang wanita menata rambut lurus-nya di depan lensa yang memantulkan
bayangan dirinya mengenakan dress putih
berpadu cardigan coklat tua. Ia
menyolek pipi tirusnya dengan blush on,
sangat tipis ia menggunakan pemanis pada pipinya tersebut, namun efek-nya sudah
bisa membuat wajahnya lebih merona. Ia tersenyum bangga.
“Bukankah
aku ini sangat cantik, hm?” ia bermonolog, menatap pantulan dirinya di cermin
dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Semuanya begitu sempurna.
“Ya, kau
sangat cantik,” suara berat mengintrupsi. Menjawab pertanyaannya—yang
sejujurnya adalah untuk dirinya sendiri—tiba-tiba.
Seseorang
melingkarkan lengan kekarnya pada
pinggang ramping wanita itu dari belakang. Menarik wanita itu pada dada
bidangnya yang terbalut kaos V-Neck
putih santai dengan gambar tengkorak hitam ditengahnya. Menumpu dagu-nya pada
bahu kanan wanita itu, menghirup wangi parfum J’Adore dari perpotongan leher wanita yang ada di dekapannya.
“Hei,
apa yang kau lakukan?” ketus wanita itu yang sebelumnya sempat tersentak
menerima perlakuan mengejutkan dari pria tinggi di belakangnya.
Pria itu
terus saja mengendusi leher jenjang wanita-nya, menghirup lebih dalam aroma
memabukkan tersebut, tak ingin terlewat satu inchi-pun. “Aku merindukanmu.”
Jawaban
tersebut cukup membuat wanita itu terpaku sejenak. Ia menghembuskan napasnya
kasar sembari berusaha melepaskan kekangan yang melingkar di pinggangnya. Ia
berbalik dan menatap wajah seorang pria tinggi—dan luar biasa tampan—intens.
“Apa?”
pertanyaan bodoh—menurut wanita itu—. Oh, pria-nya terlihat polos dengan wajah
sepert itu sekarang.
“Jangan
sekarang. Aku sudah bersiap-siap untuk hari ini,” tutur wanita itu menjelaskan.
Pria di
hadapannya memutarkan bola mata dengan malas. Ia berdecak sinis. “Karena dia lagi,” desisnya.
“Kenapa?”
kini wanita itulah yang nampak bodoh, melontarkan sebuah perkataan yang
menurutnya sangat ambigu. “Ini semua untuk kita,” lanjut wanita itu.
Pria itu
hanya terkekeh mendengar penuturan tersebut, ia mencubit gemas hidung berukuran
proposional milik wanita di hadapannya dengan simpulan senyum. “Kau sangat
pintar.”
“Aku
tahu. Jika aku tidak pintar, tidak mungkin aku bisa sampai ke titik sejauh
ini,” sela wanita itu lalu kembali berbalik, bercermin ditemani dengan satu
bayangan lain di belakngnya kini. “Dan... aku sudah memiliki dia sebagai kuncinya,” imbuhnya.
“Kau
benar-benar wanita yang menarik, Han Chaerin,” sahut pria itu dengan
menjuntaikan lengannya ke atas bahu wanita bernama Han Chaerin tersebut.
Menyibakkan rambut Chaerin yang tergerai di kedua bahu-nya, menyatukan rambut hitam
legam itu menjadi satu lalu mengikatnya dengan ikat rambut yang entah ia
dapatkan darimana.
“Hei!
Aku sudah menatanya, Park Chanyeol!”
“Diamlah.
Seorang pria lebih menyukai wanita yang memperlihatkan leher mulus-nya. Kau
tahu itu, Chaerin?”
Chaerin
terkesiap. Mendengarkan setiap bisikan lembut disertai napas hangat Chanyeol
yang sedikit membuat ngilu area lututnya. Kulit-kulit sensitif-nya cukup peka
menerima sengatan-sengatan listrik yang diberikan oleh si pemilik suara bass tersebut.
Chanyeol
mengecup lembut leher itu sekilas, membuat Chaerin mau tidak mau membelalakkan
matanya melihat perlakuan Chanyeol dari pantulan cermin.
“Kau
milikku. Hanya milikku, Chaerin. Bukan milik yang lain.”
***
Han
Chaerin mengingat semuanya. Sepuluh tahun lalu ia hanya seorang gadis
yatim-piatu yang besar di sebuah panti asuhan sederhana pinggiran kota Seoul.
Usianya yang saat itu baru menginjak pada angka
16 tahun, membuatnya menemukan sebuah jati diri lain yang terpendam dalam
sugesti-nya.
Dan pada
hari itulah, semuanya berawal.
“Dia
tampan,” Chaerin berucap pelan. Bersembunyi di balik pohon akasia besar yang
tumbuh di belakang taman panti.
Obisidian
hitam miliknya menelisik. Pergerakannya terpaku, ia hanya fokus memandangi
seorang pria yang tengah duduk di bangku taman panti seorang diri.
Chaerin
remaja tahu, pria itu pasti seumuran dengannya. Tentu, pria itu memakai seragam sekolah menengah atas yang seharusnya ia
juga mengenakannya.
Kelopak
mata yang terpejam itu, kulit putih bersih itu, rambut yang ditata rapi itu,
bibir yang menggumam melantunkan sebuah lagu yang ia yakini tersalur dari
sebuah MP3 di telinganya, menghipnotis Chaerin remaja sesaat.
Chaerin
menyimpulkan senyuman penuh arti. “Dia juga kaya,” lalu terkikik kecil.
Dengan
ragu, kaki jenjang Chaerin mulai melangkah keluar dari persembunyiannya. Ia
melangkah hati-hati menuju bangku taman yang diduduki oleh remaja pria
tersebut.
Langkah
Chaerin terhenti tepat di hadapan pria yang duduk tenang tersebut.
Menyembunyikan kedua tangannya di belakang, sekedar untuk menahan rasa gugup
yang bergemuruh di dada.
Merasakan
kehadiran seseorang, pria itu membuka matanya perlahan. Menangkap siluet wanita
remaja—cukup rupawan—tengah berdiri tegap sembari menatapnya intens, sedikit
membuatnya tersentak. Ia melepaskan kabel tipis yang menyumpal telinganya kemudian mengangkat punggungnya yang bersandar pada bangku
taman.
Chaerin
remaja tersenyum kecil. “Hai!” sapanya manis.
Pria
remaja itu mengedipkan matanya beberapa kali, tak lantas menjawab.
“Aku
tahu kau berasal dari China. Aku bisa berbahasa Mandarin, kok,” sela Chaerin
beralih bahasa menjadi Mandarin dengan pelafalan yang terbilang cukup bagus dan lancar. Pria itu mengulum senyum
saat Chaerin memperlihatkan deretan gigi kelincinya yang menggemaskan.
“Bertemanlah
denganku. Namaku Chaerin. Han Chaerin,” ajak Chaerin masih berbahasa Mandarin.
Ia bersyukur dibekali otak jenius.
Pria
remaja itu berdiri dari tempatnya, tersenyum lugu dengan kedua lesung pipi-nya
yang ikut menyelingi. Menambahkan kata menawan dalam diri pria itu.
“Namaku
Yixing.”
Chaerin
remaja tidak akan pernah lupa nama pria itu. Selain mengukir nama indah pria
itu pada buku hariannya, ia juga akan mengukir nama pria itu di hatinya.
***
“Bagaimana
kau tahu kalau waktu itu dia adalah putra dari seorang presdir perusahaan
besar?” Chanyeol kembali membenarkan beberapa anak rambut Chaerin dari
belakang, anak rambut itu sempat tergerai sembarang saat sebelumnya ia mengikat
rambut halus tersebut menjadi satu.
“Sudah
jelas, dari tatanan rambutnya saja aku sudah bisa memprediksinya. Lagipula,
waktu itu dia datang dengan menyumbangkan keperluan-keperluan panti,” Chaerin
menjelaskan, menatap pantulan bayangan Chanyeol yang telaten merapikan tatanan
rambutnya.
“Aku
hanya berpikir, apakah itu sebuah kebetulan? Atau memang keberuntunganmu?”
Chanyeol tersenyum saat dilihatnya tatanan rambut Chaerin begitu menawan. Ia
beralih menatap manik mata Chaerin yang terpantul dari cermin.
“Ya, aku
tahu maksudmu. Entahlah, waktu itu aku memang entah sengaja—atau tidak—tertarik
untuk mempelajari bahasa Mandarin. Dan... Bingo!
Aku mendapat jackpot!” seru Chaerin.
Getaran
suara ponsel di atas nakas membuat Chaerin menyudahi cerita lama-nya—yang ia
anggap sebagai sebuah dongeng pengantar tidur—. Wanita itupun beranjak dari
cermin di hadapannya untuk mengambil ponsel pintar persegi panjang.
.
.
From: Yixing
Aku menunggumu di luar. Sudah siap pergi, princess?
.
.
Chaerin
sesegera mungkin memasukkan ponselnya ke dalam tas gucci elegan yang juga pemberian dari pria bernama Yixing saat merayakan tahun ke-lima
mereka resmi menjadi sepasang kekasih.
“Dia
datang?” seloroh Chanyeol yang melihat wanita-nya sudah mengaitkan tas bermerek
ternama itu di bahu kanannya.
Chaerin
berdehem lalu mulai melangkahkan kakinya untuk keluar bilik kamar tersebut.
Dengan sigap, tangan kekar Chanyeol mencekalnya lagi. Membuat Chaerin terhenyak
dan melemparkan tatapan yang mengartikan lepaskan-aku-sekarang-juga.
“Aku
mencintaimu. Aku selalu ada di belakangmu,” tutur Chanyeol lembut lalu menyesap
bibir ranum milik Chaerin singkat.
Chaerin
hanya membalas dengan sebuah senyuman tipis. “Ya, aku tahu itu. Aku juga
mencintaimu,” kemudian kembali berjalan keluar menuju sebuah pintu penghubung
dirinya dengan dunia-nya yang lain.
Menjadi
Han Chaerin lain.
Untuk
seorang pria bernama Zhang Yixing.
***
Han
Chaerin mengingat cerita lama-nya lagi. Saat dirinya telah mengenal Yixing
selama tiga tahun belakangan. Saat pria itu pulang dari sekolahnya—yang
seringkali tanpa mengganti seragam—dan langsung pergi menuju panti asuhan
dimana keberadaan Han Chaerin si wanita manis pujaan hatinya berada.
“Jadilah
pacarku,” ucap Yixing lancar dengan aksen Korea-nya sembari memegang kedua bahu
Chaerin.
“Apa?”
obsidian hitam itu sedikit melebar mendengar perkataan Yixing. “Kau pasti salah
mengucapkannya, Xing. Jangan bercanda. Aku sudah sering mendengar kau salah
melafalkan sesuatu dalam bahasa Korea.”
“Sungguh,
kali ini aku yakin tidak salah menyebutkan kata-kata,” sanggah Yixing kukuh.
Sorot mata teduh itu membalas tatapan penuh arti Chaerin. Kedua manik bercahaya
itu menyelami rahasia di relung hatinya, menyiratkan keseriusan tanpa ada
sedikit-pun kebimbangan. Mematahkan harapan palsu-nya, menggantikannya menjadi
harapan baru yang lebih sempurna dan nyata.
“Aku
hanya wanita yang besar di panti asuhan. Sedangkan kau—“
“Tapi
aku mencintaimu, Chaerin,” potong Yixing. “Kau cantik, kau juga pintar.
Salahkah aku menyukaimu?” Chaerin remaja tak berani menatap bola mata
keseriusan di hadapannya. Ia terlalu takut jika mantra penghipnotis itu
merasuki alam bawah sadarnya.
Tanpa
pikir panjang, Yixing sesegera mungkin memagut dagu Chaerin mendekat ke
wajahnya. Mempertemukan kedua bibir tipis mereka dengan sentuhan lembut dan
bermakna. Menyesapnya perlahan di atas rerumputan basah taman belakang panti.
Hanya 5
detik.
Yang
diselingi suara merdu burung gereja.
“Aku
sangat menyukaimu, Chaerin.”
Chaerin
membalas tatapan penghipnotis itu. “Ya, aku mau. Aku juga sangat menyukaimu,
Xing.”
Chaerin
juga akan terus mengingat tentang memori ini. Karena, semua memorinya selalu tersusun apik dalam buku harian.
***
Tiga
tahun yang lalu, seorang pria berumur 24 tahun duduk termangu. Menyesap secangkir cairan hitam kafein yang
mengepulkan uap panas di udara dingin. Pandangannya mengarah ke kaca transparan
kedai kopi yang didiaminya, memandang sendu jutaan kristal putih halus yang
turun dari langit, berterbangan terbawa angin. Ia mengulum senyum kecut, lalu melirik ke kantung mantel bulu yang
dikenakannya.
Benda
kubus berwarna netral itu berada dalam genggamannya. Senyum bahagia itu belum
pudar, justru kian melebar saat ibu jari kanannya membuka tutup kotak kecil
tersebut.
Kilauan
samar terpancar pada mutiara putih dengan platina mengkilap yang tersambung di
bagian atasnya, kembali dihubungkan dengan seuntai emas putih yang kedua bagian
ujungnya memiliki pengait kecil.
Dan
apabila kedua ujung dari pengait tali emas putih itu disatukan; kalung indah
berbandul mutiara akan tertangkap pada setiap retina yang merefleksikannya.
Pemuda
bernama Yixing itu menampilkan lesung pipi-nya, lalu bergumam. “Maukah kau
menikah denganku, Han Chaerin?” dengan aksen Korea.
Ia
kembali membuang pandangan keluar kaca kedai kopi, berharap siluet pujaan
hatinya kembali datang menghampirinya.
Namun
nyata-nya, hanya ada kristal-kristal lembut dari langit yang menyambutnya.
***
Han
Chaerin memandang langit malam dengan sunggingan senyum tipis di balik kaca
transparan kedai kopi. Ia meletakkan tas gucci
miliknya lalu melemparkan pandangan ke sosok di seberang meja yang
membatasi tempat duduknya. Lesung pipit itu kembali menyambutnya, membuatnya terkikik
geli.
“Kau
masih ingat?” ujar Yixing sekilas, memandangi helaian rambut hitam legam milik
Chaerin yang terikat malam ini. Tidak seperti Han Chaerin yang selalu menggerai
rambut panjangnya.
“Tentu.
Aku menulis semua yang perlu kujadikan memori dalam sebuah buku,” jawab Chaerin
lalu menyesap caramel machiato miliknya.
Ia bukan pecinta kopi seperti Yixing.
Yixing
tak lantas menanggapi, terlalu gemar memperhatikan bibir ranum itu tengah bersentuhan dengan bibir cangkir putih
tersebut. Cepat-cepat ia menyapu semua pikiran kotor yang sempat terlintas
dalam benaknya. “Kau memang cantik, Chaerin.”
Chaerin
sudah cukup bosan mendengar pujian dari semua pria yang pernah bertemu
dengannya. Namun jika itu dia yang
mengucapkannya, hormon endorfin-nya serasa bereaksi lebih.
Chaerin
hanya tersenyum sebagai sebuah jawaban.
Dilihatnya
lengan Yixing membuat gerakan kecil di bawah. Pria
itu tersenyum nyinyir saat menerima tatapan menyelidik dari Chaerin. Dengan
satu helaan napas, tangannya yang sedari tadi bertumpu pada paha terangkat
dengan memegang sebuah kotak kecil berwarna senada dengan jas yang
dikenakannya.
“Sudah
saatnya kau memakai ini,” sanggah Yixing mendekatkan kotak kecil itu ke sisi
meja Chaerin. Lesung di pipinya itu selalu membius Chaerin untuk terus
menatapnya. Membuatnya mau tak mau harus membalasnya dengan sebuah senyuman
pula.
Telapak
tangan Chaerin beralih untuk membuka kotak berbeludru hitam tersebut.
Sengatan-sengatan pada setiap jari-jarinya masih terasa sama seperti 3 tahun
yang lalu, saat ia juga menyentuh kotak hitam
tersebut. Sebuah kalung berbandul mutiara itu masih nampak sempurna. Masih
seperti saat pertama kali ia melihatnya. Masih seperti penggambarannya pada
sebuah buku.
Chaerin
lagi-lagi tersenyum tipis, ia menutup benda kubus itu—yang terdapat kalung
indah di dalamnya—lalu mendekatkannya lagi ke sisi meja Yixing. Pria di
hadapannya terhenyak untuk beberapa saat.
“Sebentar
lagi, Xing. Besok. Besok aku bisa memakainya,” terang Chaerin mengambil jeda
lalu mengulum senyum—palsu—.
“Saat
aku benar-benar menjadi istrimu.”
***
Tiga
tahun yang lalu, sepasang kekasih bersanding dengan kedua tubuh yang
berhimpitan nyaris tak ada celah pada bangku halte. Dingin yang menyergap
membuat mereka saling menghangatkan satu sama lain. Sang pria yang bertubuh
lebih tinggi menangkup kedua tangan kecil wanita-nya, menggesekan-gesekan
telapak tangannya yang besar, lalu mencondongkan wajahnya dan meniupkan udara
hangat ke tangan kecil wanita itu.
Wanita
itu terkekeh. “Kau sendiri tidak kedinginan?” ujarnya yang langsung disambut
oleh gelengan si pria.
“Bagaimana
hasilnya?” ujar pria itu memecah keheningan yang tercipta beberapa saat. Pria
itu memandang lurus, menyelami sepasang manik rusa
dengan penuh ke-ingin-tahuan.
Cukup
lama tak ada reaksi yang ditimbulkan wanita-nya, pria itu mengerjapkan matanya
beberapa kali.
“Aku
menolaknya,” tandas wanita-nya lalu memandang lurus ke arah
jalan besar yang pinggirannya mulai tertutupi kristal-kristal halus
bertimbunan.
Kornea
coklat sang pria sedikit membesar. Ia memandangi wajah wanita-nya intens.
“Sungguh?”
Wanita
itu mengangguk beberapa kali. “Aku mengatakan kepada-nya agar dia lebih bersabar,” mengambil napas beberapa
detik. “Aku bahkan sudah berjuang selama
7 tahun, aku tidak akan membiarkan dia
mendapatkanku begitu saja dengan mudah.”
“Aku
tidak mau mengalah. Dia juga harus
merasakan bagaimana rasanya bersabar dalam sebuah penantian,” lanjut wanita itu
tertawa dibuat-buat memprihatinkan.
“Lagipula,
aku masih harus kuliah 2 tahun lagi.”
Pria di
sampingnya menarik sudut bibirnya perlahan, tangannya terjuntai ke atas lalu
mengelus surai kehitaman milik wanita-nya. “Pintar. Masa depanmu tergantung di
tanganmu sendiri,” ucap pria itu.
Untuk
beberapa detik, wanita bersurai kehitaman itu bergelut dengan pemikirannya
sendiri. Menanggalkan semua hal tabu yang ia lakukan dengan pria di sampingnya;
di belakang dia. “Lalu bagaimana
dengan masa depanmu?” wanita itu berseloroh. Memandang mata hazel pria di
sampingnya itu dengan tatapan penuh canda; meremehkan.
Pria itu
tersenyum tipis. “Kedepannya, aku akan selalu ada untukmu. Aku akan selalu
mendukungmu. Mengubah garis takdir yang diberikan Tuhan kepada orang-orang
seperti kita. Aku akan menaklukan dunia bersamamu,” tegasnya. “Dan... aku akan
selalu mencintaimu.”
Wanita
itu tidak bergeming. Menatap rahang tegas pria di sampingnya lamat-lamat.
Menatap hidung proposional kesukaannya. Menatap telinga lebar menggemaskan
milik pria-nya. Menatap mata hazel bersinar penuh arti—yang hanya ditujukan untuknya—.
“Berjanjilah
hanya untuk selalu mencintaiku. Tidak yang lain,” tukas pria itu membuat kornea
hitam si wanita mengecil.
“Bagaimana,
Han Chaerin?”
Han
Chaerin terdiam. Dadanya bergemuruh tak menentu. Napasnya terasa pendek di
tenggorokan, membuat lehernya seperti terlilit rantai besi panjang yang membuat
sulit untuk mengeluarkan sebuah jawaban.
Diam.
Berpikir.
Tersenyum.
Dan...
pertanyaan pria tersebut tak pernah terjawab.
***
Setelah
resepsi panjang yang memakan waktu hampir tujuh jam lamanya, Han Chaerin yang
masih terbalut gaun pernikahan sutra mewah berwana putih, dibawa pergi oleh
seorang pria dengan setelan jas yang senada dengan gaun cantik-nya. Rambut pria
di sampingnya hari ini begitu menawan, senyum pria itu terus terpancar saat
bersapaan dengan para tamu—yang sebagian besar adalah keluarga dan kerabat pria
itu sendiri—.
Mobil porsche silver metalik berhenti pada pekarangan sebuah bangunan semi-kontemporer dengan
arsitektur California. Sentuhan-sentuhan keajabian—tangan si perancang—memenuhi
setiap sisi-sisi dinding bangunan megah tersebut, serta merta pohon-pohon maple yang memang sengaja ditanam
melingkar pada area pekarangan juga menambah kesan asri yang menyejukkan hati.
Jangan lupakan luapan air yang meluncur ke atas dan jatuh indah pada sebuah
kolam berpatung dewi-dewi.
“Dimana
ini?” tanya Cherin memandang wajah pria di jok sampingnya dengan bingung.
“Tentu
saja. Rumah kita.”
Chaerin
belum sempat lagi berkata-kata. Setelah kalung berbandul mutiara itu mengitari
lehernya sejak di atas altar, dan mendapat sebuah kecupan singkat—di bibir yang
didasarkan cinta—oleh pria di sampingnya, ia cukup bangga atas semua yang
didapatkannya saat ini.
God! 10 tahun yang lalu ia hanyalah seorang gadis yang
besar di panti asuhan pinggir kota.
“Kau
melakukan semua ini lagi?” kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut manis
Chaerin.
“Aku
sudah mengatakannya, bukan?” pria di sampingnya mengulum senyum tipis. “Seorang
Zhang Yixing akan melakukan segalanya untuk orang yang dicintai-nya.”
“Terlebih,
orang yang dicintainya saat ini telah menjadi miliknya seutuhnya.”
Chaerin
merasakan kelu pada indera pengecapnya. Saat
senyuman penuh arti itu selalu mengisi setiap celah di hatinya, nama orang lain
selalu saja sempat menyelinap
masuk dalam benaknya. Memaksa masuk ke sisa-sisa
celah sempit—di hatinya—, membuat hatinya terasa sesak dan sakit.
“Setidaknya,
pria bernama Zhang Yixing itu tidak akan pernah tahu yang sebenarnya,” batin
Chaerin tersenyum getir.
***
“Tidak
kusangka kau akan benar-benar menikah hari ini,” ucap Chanyeol tersenyum
nyinyir melihat Chaerin yang tengah berdiri tegap di depan cermin panjang
mengenakan gaun putih yang terlihat ramping dan serasi dengan tubuhnya.
“Ya, aku
juga tidak menyangkanya.”
Chanyeol
berjalan mendekat. Lalu menarik bahu wanita yang tengah bercermin itu ke
arahnya. Memeluknya erat-erat sembari menghirup aroma yang selalu menjadi candu
untuknya.
“Jangan
lakukan ini, Yeol. Aku akan segara naik ke altar.”
Chanyeol
menjauhkan wajahnya lalu memutar tubuh sebatas bahu itu agar pandangan mereka
bertemu. Chanyeol menelungkupkan satu telapak tangannya di dada. Ia meringis.
“Rasanya
sakit,” lirih Chanyeol menekan kuat dadanya yang terbalut setelan jas hitam.
Chaerin
mengerti lalu terkikik sekilas. “Untuk yang kali ini, kumohon bertahanlah,”
pinta Chaerin.
“Tetapi,
aku ada satu permintaan.” Chanyeol mengerlingkan matanya.
“Apa?”
Chaerin bertanya ragu.
“Berkatalah
jika kau—Han Chaerin—akan selalu menjadi wanita yang hanya dimiliki oleh pria
bernama Park Chanyeol. Menemaninya di saat duka, dan tertawa bersamanya di saat
bahagia. Apapun yang
terjadi, kita—kau dan aku—harus tetap berjuang untuk
menaklukan dunia, sampai maut memisahkan kita berdua. Maukah kau berjanji seperti itu di depan Tuhan
sekarang?”
Aura
yang terpancar dari mata Chaerin meredup. Indera pengecapnya
akhir-akhir ini sering mata rasa tiba-tiba. Memori-memori perjuangan hidupnya
selama 10 tahun belakangan ini—saat ia berjuang di tengah kerasnya
dunia—berputar cepat. Melimbungkan jiwa-nya beberapa saat ke masa lalu yang
sudah ia kubur dalam-dalam tak berbekas.
Menganggap
semuanya tidak pernah terjadi.
Sekarang
hanya ada Han Chaerin yang baru.
“A-a-aku....”
Chaerin tergagap. Napasnya serasa putus-putus.
Pintu
bilik bernuansa putih itu terbuka. Menampilkam siluet seorang pria bersetelan
jas putih dengan sepatu pantofel hitam yang selaras dengan tubuhnya.
Han
Chaerin cepat-cepat menjauh dari tubuh tinggi Chanyeol saat mengetahui tatapan
tidak suka itu tertuju pada dirinya yang berdekatan dengan Chanyeol. Saat pria
itu berjalan mendekat dan melemparkan tatapan siapa-dia?.
“Dia
teman lama-ku saat di panti. Baru beberapa hari ini pulang dari Paris. Aku
mengundangnya saat kutahu dia telah di Korea. Aku sangat akrab dengannya,” jelas Chaerin cepat. Chanyeol hanya
diam, menyunggingkan sebuah senyuman penuh kepalsuan kepada pria—yang paling ia
benci—di hadapannya ini.
Chaerin
tahu, Yixing bukan-lah pria bodoh. Tidak mungkin semudah itu ia percaya akan
alibi-nya yang sangat kekanak-kanakan begitu saja. Ia tahu, bahwa dirinya harus
lebih waspada.
“Baiklah,”
Yixing meraih tangan kanan Chaerin yang bergantung. “Ayo kita naik ke altar,” ucapnya tegas. Menekankan setiap
perkataannya dengan maksud lebih—menyindir serta memperingatkan seseorang—.
Chanyeol
hanya diam meredam perasaannya dengan tangan terkepal saat kedua insan itu
berlalu begitu saja di hadapannya. Ia akan mengingat, bahwa hari ini adalah
hari pertamanya bertatapan langsung dengan dia.
Dan mungkin juga, akan menjadi hari terakhir-nya.
Sedangkan
dalam pemikiran Chaerin saat ini, ia bersyukur.
Setidaknya,
ia tidak berjanji di hadapan Tuhan.
Yang
mungkin akan menambah dosa-nya—lagi—.
***
Yixing
merasa semua saraf-saraf tubuhnya putus satu persatu. Saat air bening itu
meleleh melewati sudut matanya yang sudah terasa berat untuk terbuka. Saat
wajahnya kian memucat, sesosok wanita yang memangku wajahnya mengedipkan
matanya untuk beberapa kali. Menahan air mata dan mengantikannya dengan sebuah
ekspresi datar yang tidak berarti.
“Maafkan
aku, Xing. Maafkan aku,” wanita itu meminta maaf berkali-kali dengan suara
parau. Ia mendekatkan wajahnya ke arah pria di pangkuannya.
Ia
menempelkan bibirnya kepada bibir yang membiru itu perlahan. Akhir dari sebuah
rencana yang membawanya pada cerita sedih. “Aku mencintaimu, Zhang Yixing.”
Kemudian,
jiwa itu pergi dengan tenang, ke alam baka.
***
Malam
pertama pasangan itu dihabiskan untuk melepas kepenatan dari acara yang memakan
waktu hingga siang hari tadi. Sepuluh tahun mereka
saling mengenal dan selalu bersama, dan pada malam inilah mereka akan di
pertemukan pada satu ranjang.
Chaerin
terduduk pada kursi mahoni, dirinya yang tengah membaca sebuah buku sedikit
terusik saat mendengar deheman lembut seorang pria yang juga duduk di
sampingnya; tengah menatap intens dirinya.
Menyadari
sesuatu hal yang janggal, Chaerin menutup buku tersebut lalu meletakkannya di
atas nakas. Ia menatap suami-nya lamat-lamat. “Mau
kubuatkan kopi?” tawarnya.
Yixing
mengangguk mantap. Memandang balik istrinya dengan mata berbinar dan senyuman
lebar.
“Baiklah.
Tunggu sebentar.”
Chaerin
beranjak dari dudukannya. Membuat hati Yixing terasa hampa sesaat; melihat
punggung wanita-nya hilang di balik pintu bilik kamar.
Bosan
yang melanda batinnya, membuat Yixing melirik ke atas nakas yang didapati
sebuah buku—yang dibaca Chaerin tadi—. “Mungkinkah buku itu yang dia maksud?”
tanya Yixing dalam hati.
Namun,
ia hanya terus memandangi buku itu dari dekat sembari menunggu istrinya datang
membawakan secangkir kopi.
***
Chanyeol
melempar puntung rokok miliknya ke seseorang yang diam bagaikan patung. Ia
menatap iba sebujur tubuh kaku yang tengah tergeletak mengenaskan di ubin
dingin hadapannya. “Inilah akhirnya?” gumamnya.
Chaerin
memandangi tubuh tinggi itu dari kursi mahoni, kemudian berganti menatap ke
tubuh pria yang memucat dan tergeletak tersebut. Seorang pria yang telah
menjadi mayat beberapa menit yang lalu.
“Mungkin.
Aku akan kaya. Mewarisi segalanya. Aku telah menaklukan dunia,” Chaerin tertawa
di tengah kegiatannya memandangi tubuh dingin Yixing. Ia tertawa sumbang lalu
berdiri dari singgasana-nya tersebut.
“Perjuanganmu
selama 10 tahun telah berhasil. Masa depanmu telah kau dapatkan, Chaerin. Kita
benar-benar akan bahagia,” tutur Chanyeol menekuk lututnya, memandangi mayat
itu dari jarak yang lebih dekat.
Chaerin
kemudian berdiri di samping Chanyeol yang berjongkok lalu melipat kedua
tangannya di atas dada. “Hampir semuanya aku yang mengerjakannya. Bahkan untuk
membunuhnya-pun harus aku,” Chaerin mendesis, mengingat berapa banyak racun
tanpa rasa maupun bau itu ia campurkan ke dalam cairan hitam dalam cangkir yang
bahkan saat ini masih mengepulkan sedikit uap panas.
“Seharusnya
hanya aku yang berbahagia untuk ke depannya.”
Chanyeol
menoleh ke arah Chaerin cepat. Langsung berdiri dan meraih bahu wanita itu agar
ia bisa menyiratkan pertanyaan apa-maksud-dari-perkataanmu?
lewat tatapannya.
Chaerin
tertawa jenaka lalu memutar bola matanya malas. “Aku hanya bercanda.”
“Tapi
bisakah kau urus yang satu ini,” melirik ke arah mayat di bawahnya. “Bisakah
kau membuangnya?”
Chanyeol
tersenyum tipis lalu mengerlingkan matanya. “Aku selalu ada untukmu.”
Chaerin
mengulum senyum tipis, lalu menarik leher belakang Chanyeol untuk mendekat ke
wajahnya. Mempertemukan kedua bibir mereka dalam cumbuan panas. Sebuah lumatan
intim hadiah kemenangan. Rasa bangga yang tinggi atas kegigihannya selama ini.
Melupakan
fakta, seseorang tengah menjadi saksi bisu adegan tersebut.
***
Chanyeol
memberhentikan mobil porsche tersebut
pada pinggiran sungai yang entah apa namanya. Ia cukup tahu tentang
tempat-tempat terpencil untuk membuang sesuatu agar keberadaannya sulit
ditemukan.
Ia
membuka bagasi mobil-nya, menatap seonggok mayak dengan tampang meremehkan
serta muak. “Kukira waktu itu, adalah hari terakhirku bisa melihat wajah
memuakkan ini,” cela-nya.
“Han
Chaerin bukanlah seorang wanita biasa. Kau tahu itu?” desisnya perlahan.
“Aku
mungkin akan kalah jika bertarung dengannya,” Chanyeol tergelak mendengar
monolog-nya sendiri. “Itulah yang membuatnya berbeda dari yang lain. Ia sangat
menarik.”
Saku
mantel bulu Chanyeol bergetar, menandakan sebuah panggilan dari ponselnya. Ia
sesegera mungkin mengambil ponsel dari dalam saku-nya dan mengangkatnya.
“Halo?”
“Aku mencintaimu, Park Chanyeol. Maafkan
aku,” lalu terputus secara sepihak. Membuat Chanyeol bergelung dalam
pemikirannya sendiri. Beradu argumen dengan segala hal yang mengganjal di
otaknya.
Suara
gema sirine terdengar nyaring di gendang telinga Chanyeol. Kelap-kelip sinar
menghujam tubuhnya yang terpaku membisu di depan bagasi mobil.
Sekitar
tiga mobil polisi berhenti di depan posisinya terpaku, diikuti oleh acungan
sekitar delapan senjata api ke arah tubuhnya.
“Jangan
bergerak! Kau dilaporkan dalam kasus pembunuhan!” sentak salah satu diantara
orang-orang yang memegang senjata api tersebut.
Pada
akhirnya, Chanyeol saat ini tahu tentang semua fakta yang ada. Bahwa akhirnya
sebuah cinta tidak akan pernah menjembataninya ke masa depan yang bahagia.
Semuanya palsu dan penuh kebohongan. Saat ucapan-ucapan manis yang terekam di
masa lalu, menjadi abu yang terbakar bersama sejuta kepahitan dan kepedihan di
dadanya.
Semua
pertanyaan-pertanyaannya itu, kini telah terjawab.
Chanyeol
mengangkat kedua tangannya di udara, ia tertunduk lalu menyimpulkan senyum.
“Karena aku pernah berjanji untuk selalu mencintaimu, maka aku akan
memaafkanmu.”
“Kau
benar-benar wanita hebat, Han Chaerin,” lalu tubuhnya terasa berat untuk
berdiri tegap.
Dan
sebuah borgol besi mengunci pergelangan tangannya.
***
Chaerin
keluar dari sebuah taksi yang menurunkannya di area kompleks pemakaman. Pakaian serba hitam ia kenakan untuk berkabung ke
makam seseorang. Langkah kecil yang terasa berat menuntunnya melewati setiap
gundukan tanah yang diselimuti rerumputan kering. Menggiringnya lebih jauh
untuk melanjutkan sebuah tragedi yang berawal dari rencana apik dan memuaskan
untuk dirinya sendiri.
Aksara
Mandarin tertoreh pada sebuah batu nisan di depan gundukan yang masih jarang
terselimuti rerumputan pemakaman. “Aku datang,” ujarnya parau lalu menekuk
lututnya.
Suara
gagak beberapa kali terdengar bergema saling bersahutan. Dedaunan kering yang
terbawa semilir angin dingin berjatuhan, serta merta ilalang-ilalang yang juga
saling bergesekan menimbulkan bisikan-bisikan halus di telinga.
Hening.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut manis wanita itu.
Perlahan
ia merogoh tas gucci—kesayangannya—dan
mengeluarkan sebuah buku. Meletakkan buku tersebut di depan nisan, lalu
mengambil benda lain di dalam tas-nya dan kembali meletakkannya di atas buku
tersebut.
Kalung berbandul mutiara.
Ia
tersenyum miris. “Untuk yang ini, aku akan mengembalikannya.”
***
Malam
itu, sekitar 15 menit setelah kepergian Chanyeol yang membawa raga Yixing
pergi. Chaerin memandang langit kelam tak berujung yang dinaungi bulan purnama
terang dari jendela kamar—tempat ia melakukan aksi-nya—. Ia menatap sendu bola bulat bersinar itu sembari terus berpikir.
Semuanya telah berakhir sampai di sini. Semua rencananya telah berhasil dengan
sukses. Tetapi, kenapa—
Ia
menghela napas kasar dan berat. Menyibakkan tirai keemasan kamar tersebut lalu
berjalan ke arah nakas, yang terdapat sebuah buku tergeletak di atasnya.
Ia
memandang gusar buku tersebut, kemudian mengambil buku tersebut dan berniat
kembali membaca catatan-catatan serta skenario cerita yang sempat ia tulis di
bukunya.
Aku sangat membenci Zhang Yixing. Aku
membenci semua orang kaya. Aku sangat membencinya hingga aku ingin membunuh dan
mengambil semua hartanya.
Dia berkata bahwa akan melakukan apapun
demi aku. Kuharap aku bisa memegang setiap perkataannya.
Aku mencintainya? Entahlah. Biarkan semua
ini berakhir dan biarkan sebuah akhir yang menjawab semuanya.
Manik
mata rusa itu membulat saat melihat sesuatu yang janggal dalam buku tersebut.
Saat
aksara China bertinta
biru—yang jelas bukan
tulisannya—tercantum pada lembaran terakhir buku miliknya.
***
Yixing
kembali melirik ke arah buku di atas nakas tersebut semenjak kepergian Chaerin.
Giginya sedari tadi bergemeletuk tak kunjung berhenti. Ia meminimalisirkan rasa
jenuhnya dengan melantunkan sebait lagu, namun hal itu tak bisa mengusir
perasaan gundahnya.
Dan pada
akhirnya ia mengalah pada rasa ke-ingin-tahuan. Ia meraih buku tersebut dari
nakas dan duduk pada kursi mahoni di depannya. Menelisik sampul polos buku
tersebut dengan hati-hati.
Dan,
lembaran awalnya-pun terbuka oleh tangannya sendiri.
.
.
.
Yixing
akan mengingat semua lika-liku kehidupannya karena sesaat lagi malaikat maut mungkin akan segera datang
dan membawanya pergi. Saat dengan sengaja ia membubuhkan beberapa kalimat berbentuk aksara-aksara China ke
lembaran terakhir buku tersebut menggunakan pena bertinta biru.
Ia
menutup buku itu rapat-rapat dan kembali ke kediaman awalnya terduduk. Menarik
napas panjang untuk menetralkan dadanya yang terasa dihujani paku besar berkarat berkali-kali.
Dan
sosok yang ia tunggu datang, membawa secangkir kopi panas yang dimintanya.
“Ini,”
tandas wanta itu menyodorkan secangkir kopi ke arahnya.
Yixing
menerima dengan hati-hati. Ia memandang wajah istrinya dengan mata teduh penuh
arti. Ketika itu juga, istrinya ikut membalas tatapannya dengan wajah
berseri-seri. “Tidak kau minum?” tanyanya.
Ah, ya.
Ia harus meminum kopinya. “Oh, baiklah. Terima kasih.”
Yixing
memandang sesaat cairan hitam yang terkumpul tenang dalam sebuah cangkir putih
tersebut. Dengan perlahan, ia mendekatkan bibirnya pada
cangkir tersebut. Menyesapnya beberapa kali yang nyatanya memang terasa seperti
kopi biasa.
Yixing
tersenyum simpul menatap istrinya. “Enak,” ujarnya. Istrinya membalas dengan
sunggingan senyuman bahagia pula.
“Aku
sudah mengatakan bahwa aku akan melakukan apapun demi orang yang kucintai,”
batin Yixing dalam hati. Ia menahan napas saat dirasa denyut nadinya terasa
bergejolak tak stabil. Saat dirasa oksigen di dalam paru-paru terus berkurang
diikuti pandangan di matanya yang memburam.
Ia
meletakkan cangkir tersebut pada pinggir nakas terdekat darinya lalu memejamkan
matanya rapat-rapat menahan perih yang seakan-akan terdapat seribu pisau belati tengah mengulitinya saat ini juga.
Pada
akhirnya, Yixing jatuh meringkuk di ubin dingin. Meringkuk di bawah orang
terkasihnya.
Yang
malam itu ternyata adalah malaikat mautnya.
.
.
.
Bukankah aku sudah mengatakan padamu?
Bahwa aku akan melakukan apapun untukmu. Saat satu ucapan cinta yang keluar
dari bibirmu itu tertangkap pada gendang telingaku, seketika membuatku serasa
dunia adalah milikku. Saat kau tertawa lepas bersamaku selama 10 tahun terakhir
ini, seketika membuatku sedikit demi sedikit melupakan yang namanya takdir buruk
di masa mendatang. Saat kau datang menguatkanku yang tengah terpuruk, seketika
membuatku selalu berpikir bahwa aku akan selalu baik-baik saja jika bersamamu.
Aku akan melakukan apapun untukmu. Hanya
untuk mendengar ucapan cinta yang tulus keluar dari mulutmu. Yang tidak ada
secuil kepalsuan dan kebohongan. Dan jika sebuah pengorbanan nyawa perlu
dilakukan agar kau bisa mengatakannya sekali saja secara tulus. Maka aku akan
memberikannya.
Aku mencintaimu, Han Chaerin
Yixing
***
Han
Chaerin berjalan anggun ke atas altar dengan puluhan pasang mata yang memandang
terkesima ke arahnya menggunakan gaun pengantin. Iringan melodi-melodi yang
berasal dari dentingan piano dan biola berpadu dengan nyanyian burung gereja di
luar mansion. Saat kelopak-kelopak bunga bertaburan pada setiap langkah yang
menuntunnya kepada seseorang di depan sana—tengah tersenyum bahagia—.
Ia
tersenyum manakala melihat lelaki yang sudah menunggunya di atas altar. Namun,
hal tersebut tidak berlangsung lama saat dirinya sempat melirik ke arah lain—ke
sebuah bangku panjang di sudut depan ruangan—. Saat lelaki lain tengah
memberikan sebuah ekspresi datar—yang mengartikan sebuah ketidak-relaan—ke
arahnya yang terus berjalan elok ke arah altar.
Saat kedua
tangan itu saling bertemu di atas altar, dan Chaerin bersanding dengan
menggenggam telapak tangan hangat calon suami-nya, ia hanya dapat tersenyum
tipis—lagi-lagi—. Ia menghela napas pendek, melirik wajah calon suami-nya
sebentar yang berdiri tegap bersamanya di hadapan pendeta.
Serta di
hadapan Tuhan.
Saat
puncak dari acara dimulai, dan sebuah ikrar suci mulai dibacakan. Tangan seorang
pria mengepal geram, sedangkan satu tangan seorang pria lainnya lebih dieratkan
genggamannya pada orang terkasih.
“Ya, aku
bersedia. Menjadi istri dari Zhang Yixing. Berbagi suka di saat bahagia, dan
berbagi tangis di saat duka,” sumpah Chaerin mengakhiri. Membuat semua orang
tersenyum ikut berbahagia—kecuali satu orang—.
Yixing
meraih bahu Chaerin agar berhadapan dengannya. Menatap obsidian hitam itu
dalam, kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jas-nya. “Kau harus memakai
ini,” titah Yixing melingkarkan sebuah kalung di leher Chaerin.
Han
Chaerin tidak melawan. Ia tahu, ia telah terikat pada detik itu juga. “Aku
mencintaimu, Han Chaerin.”
Lalu
kedua bibir itu bertemu dalam satu pagutan intensif. Menimbulkan suara riuh
dari beberapa orang yang bertepuk tangan bahagia melihatnya. Dan juga,
menimbulkan sebuah amarah terpendam di lubuk hati seseorang.
“Ya, aku
mencintai—”
“—kalian,”
batin Chaerin sembari menutup kedua bola mata-nya rapat-rapat.
.
.
.
THE END
.
.
.
THIS IS NOT THE END
.
.
.
Wanita
itu membalas setiap senyuman yang tertuju ke arahnya dengan ramah. Saat
jepretan-jepretan yang
berasal dari lensa
berkali-kali mengambil
gambar-gambar tentang dirinya.
Para orang yang lapar akan berita tentu saja akan rela melakukan apa saja demi
bisa mewawancarai wanita itu.
Orang-orang
yang mengaku sebagai fans wanita
tersebut tengah mengantri sembari membawa buku-buku bersampul hitam yang
terdapat tiga gambaran tokoh; seorang wanita dengan dua pria di kanan-kirinya.
“Nona
Park Hyora, bagaimana anda dapat membuat cerita yang memancing setiap
pembacanya terbawa suasana dan emosi dengan konflik rumit seperti ini? Mungkinkah anda pernah merasakan
cerita ini secara langsung?" Seorang wartawan berekspetasi dengan candaan,
berdiri di samping wanita bernama Park Hyora yang tengah menanda-tangani novel
terbarunya yang dibawa oleh seorang gadis remaja pada antrian.
“Tentu
saja tidak. Ceritaku kali ini terlalu dramatis. Aku bahkan sempat tertawa saat
membacanya sendiri,” jawab Park Hyora dengan senyuman ramah.
“Berbeda
dengan novel-novel karya anda sebelumnya yang rata-rata bertemakan percintaan
para remaja yang lovely dan fluffy, kali ini
sepertinya anda ingin mengekspresikan sesuatu yang baru, hm?” tanya salah satu
lebah penyerap berita itu.
“Ya,
begitulah. Aku hanya ingin membuat suatu gebrakan. Dan begitulah—” wanita itu
berdehem. “Responnya sangat baik dan membuatku benar-benar kaya kali
ini,” diiringi tawa jenaka. Orang-orang di sekitarnya-pun ikut tertawa, tak menyangka dengan pola
pikir sang penulis muda berbakat tersebut.
“Hal
lainnya yang membuat beberapa orang tertarik adalah, mengapa anda memberikan
judul novel anda ini dengan 'Ini Bukanlah Sebuah Akhir'?” timpal wartawan lainnya.
“Ya, aku
hanya beranggapan, dari cerita Han Chaerin si wanita yang bisa segalanya dan
egois tentang cinta, Zhang Yixing si pria yang mengorbankan segalanya dan
mengerti tentang cinta, serta Park Chanyeol si pria yang menghalalkan segalanya
dan belajar tentang cinta, bahwa ketiga tokoh itu masih mempunyai cerita lain
untuk perjalanan hidupnya—kecuali Yixing—ke depannya. Jujur, aku tidak suka
sesuatu yang berakhir sedih. Jadi, aku sengaja memberikan akhir yang tabu agar
para pembaca bisa berimajinasi tentang bagaimana akhir yang tepat untuk setiap
tokoh,” jelasnya diiringi kekehan ringan.
"Kami
dengar, novel ini akan diangkat ke layar lebar."
Hyora
memasang ekspresi terkejutnya yang polos. "Benarkah?! Ah, aku pasti benar-benar
kaya nanti," kembali tertawa renyah.
“Baiklah.
Kami sebagai pembaca, akan kembali menunggu cerita lainnya dari anda, Nona,”
tukas seorang wartawan dan suara riuh kembali terdengar di sana-sini. Membuat
Park Hyora cukup bangga akan karya-nya tahun ini.
.
.
.
“Ya, aku akan kaya dengan ini.”
.
.
.
Pada malam dimana aku membawa mereka pergi,
Aku akan selalu mengingat bahwa kepuasaan
dunia bukanlah segalanya,
Aku akan selalu mengingat kata-kata cinta
yang mereka berikan padaku,
Aku akan selalu mengingat bahwa aku adalah
seorang wanita yang pernah dicintai.
Kepada dunia baru yang menyambutku tanpa
seseorang di sisiku,
Aku mengucapkan cinta untuk diriku
sendiri,
Kepada kegelapan yang membawa cintaku
pergi,
Aku terlelap dengan tangisan menyedihkan
di malam purnama.
Saat tidak ada lagi yang mengucapkan
kepadaku sebuah kata cinta,
Biarkan aku terpaku di sini seorang diri,
Di ruang hampa yang diselubungi oleh
penyesalan,
Membayar dosa dengan airmata yang terbuang
sia-sia,
Tersiksa perlahan karena sebuah kerinduan.
Ketika suatu saat nanti aku menemukan cinta lain,
Aku ingin menjadi orang yang lebih
mencintai,
Agar aku bisa merasakan apa yang namanya,
Pengorbanan, kesetiaan, kebahagiaan, dan rasa sakit
Yang murni karena didasari cinta.
Terima kasih untuk kalian yang mengajariku
tentang apa itu cinta.
Penulis
-PARK
HYORA-
.
.
.
This Is Not The End
by : sosa